Saturday, August 31, 2013

          Pada suatu hari, Ibrahim bin Adham, anak raja yang beralih menjadi sufi ini, bertemu orang yang sedang gelisah. Untuk menghibur dan dengan maksud membantu orang itu keluar dari keputusasaan dan kegalauan, Ibrahim menyampaikan tiga pertanyaan kepadanya.


          Pertama, “Apakah sesuatu yang tidak dikehendaki Allah bias terjadi di alam ini?” Jawabnya “Tidak.” Kedua, “Apakah rezeki yang ditetapkan Allah kepadamu bias berkurang?” Jawabnya, “Tidak.” Ketiga, “Apakah umur yang ditentukan Allah kepadamu bias berkurang?” Jawabnya, “Tidak”! Lantas, mengapa engkau larut dalam kesedihan dan kegalauan?” Sanggah Ibrahim.

          Dialog ini menarik dan menyampaikan pesan yang berharga. Pertama, soal perlunya perhatian dan kepedulian kita kepada orang lain. Perhatian, juga tegur sapa, sangat penting karen manusia adalah mahluk sosial. 

          Kini, dengan kemajuan teknologi, alat-alat komunikasi memang membeludak alias bertebaran. Tapi karena sibuk internetan, BBM-an, SMS-an, dan lain-lain permainan, kita tak jarang menjadi lupa dan abai pada orang-orang di sekitar kita. Terjadi ironi di sini. Alat-alat canggih itu mampu mendekatkan yang jauh, tetapi dalam waktu yang bersamaan, bias menjauhkan yang dekat.

          Kedua, perlunya peningkatan peran da’I dalam memecahkan persoalan umat. Dakwah tidak boleh dipersempit maknanya hanya sebagai ceramah atau retorika, tetapi merupakan usaha orang beriman mengidentifikasi dan mencari solusi dari problem-problem keumatan. Da’I, seperti ditunjukkan Ibrahim bin Adham, tak ubahnya seorang dokter. Ia pandai melakukan diagnosis dan memberikan resep dan terapi penyembuhan dengan cermat & tepat.

          Al-Bahi al- Huli, memang menyebut da’I sbg Thabib al-Mujtama’ (dokter social) yang harus menanggulangi berbagai penyakit masyarakat, baik penyakit moral, social, maupun spiritual. Berbagai penyakit masyarakat itu, tutur al-Huli, tak bakal bias disembuhkan dg retorika, dg cara memainkan kata-kata atau menggerak-gerakkan telunjuk.

          Ketiga, soal perlunya penghayatan dan pengamalan iman. Iman, dalam pengertian generiknya, mengandung makna percaya atau lebih tepat lagi, menaruh kepercayaan, kepada Allah SWT. Kepercayaan kepada Allah SWT, Pencipta dan Penguasa alam jagat raya ini, menjadi  sumber pengharapan (optimisme) bagi orang beriman. Maka, logikanya, iman yg benar (al-iman) mesti menimbulkan rasa aman (al-amn) dan rasa damai (as-salam) yg tinggi. (QS al-Hasyr [59]: 23).

          Iman adalah fitrah dalam arti panggilan dan kecenderungan primordial manusia (QS al-Rum [30]: 30). Dengan iman, manusia menjadi eksis dan survive, lantaran ia berada di jalan (orbit) Tuhan dan senantiasa menuju kesempurnaan dengan menghayati kehadiran-Nya melalui proses transendensi secara terus-menerus.

0 comments:

Post a Comment