Tuesday, September 3, 2013

    
       Sukses bukanlah orang yang banyak pekerjaan, jabatan, gelar, popularitas, pengikut, atau uang. Kesuksesan adalah ketika seorang hamba mendapatkan ridha Allah SWT dan rasul-Nya
.

        Abdullah Dzul Bijadain RA adalah seorang sahabat yang nama aslinya Abdul Uzzah al-Muzzanni. Orang tuanya dari kalangan bangsawan. Namun, mereka wafat saat Dzul Bijadain masih kecil. Bijadain kemudian diasuh dan dibesarkan pamannya yang kaya raya.

          Pada usia 16 tahun Dzul Bijadain masuk Islam, melalui sahabat-sahabat Rasulullah yang berhijrah dari Makkah ke Madinah. Ia diajak ikut serta ke Madinah untuk belajar Islam, tetapi ditolaknya. Penolakan itu dilakukannya karena ia ingin sang paman masuk Islam.

       Selama tiga tahun berdakwah kepada pamannya, usahanya tak membuahkan hasil. Maka, ia pun dengan terang-terangan menyatakan keislamannya di hadapan pamannya dan mengajaknya ke Madinah. Sang paman mengancamnya, tetapi ia tak khawatir. “Saya tak punya pilihan lain selain Allah dan Rasul-Nya,” ujarnya.

      Karena itu, ia pun meninggalkan semua harta dan kekayaannya demi cintanya kepada Allah dan Rasulullah. Ia berhijrah ke Madinah. Sesampainya di Masjid Nabawi, Rasulullah bertanya, “Siapa Anda?” Ia menjawab, “Saya Abdul Uzzah.”

       Saya dating kemari dengan meninggalkan semua yang aku miliki, kecuali kedua pasang baju kasar (Bijadain) ini.” Rasul bertanya, “Apakah Engkau benar melakukan semua itu?” Ia mengiyakan. “Mulai saat ini, engkau bernama Abdullah Dzul Bijadain,” ujar Rasulullah.
Ia kemudian tinggal di serambi masjid bersama Ahlus Shuffah selama empat tahun. Pada usia yang ke-23, ia turut berperang dalam Perang Tabuk. Namun, ia syahid dalam peristiwa itu akibat terserang demam keras setelah akan pulang dari perang.

         Proses pemakamannya dilakukan Rasulullah SAW. Ibnu Mas’ud mengabarkan, “Di malam buta yang dingin, aku mendengar orang menggali tanah. Aku terbangun. Ternyata Abu Bakar dan Umar sedang memegang obor untuk menerangi Rasulullah yang sedang menggali kubur untuk Dzul Bijadain. Rasul enggan dibantu karena ia ingin menghormatinya.

         Setelah jenazah Dzul Bijadain sempurna dibaringkan di liang lahat, Nabi bertakbir empat kali kemudian berdo’a, “Ya Allah, saya bersaksi kepadamu, saya berada di malam ini ridha kepada Dzul Bijadain. Maka, berkenanlah Engkau meridhainya. Ya Allah, aku bersaksi kepadamu, saya berada di malam ini ridha kepada Dzul Bijadain. Maka, berkenanlah Engkau meridhainya.” Ibnu Mas’ud berkata, “Demi Allah, saya merindukan akulah yang dikuburkan, karena aku masuk Islam 15 tahun lebih awal dari Dzul Bijadain.”
Empat kesaksian yang diberikan Nabi kepada Dzul Bijadain; cinta Allah dan Rasul-Nya, banyak bertaubat dan kembali kepada Allah, gemar membaca Alquran, dan Rasulullah ridha kepadanya.
Dzul Bijadain telah memperoleh kesuksesan, yaitu ridha Allah dan Rasul-Nya, setelah berjuang merelakan harta dan jiwanya di jalan Allah. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.” (QS [89]: 27-28). Wallahu a’lam.

1 comment: