Sukses
bukanlah orang yang banyak pekerjaan, jabatan, gelar, popularitas,
pengikut, atau uang. Kesuksesan adalah ketika seorang hamba
mendapatkan ridha Allah SWT dan rasul-Nya
.
Abdullah
Dzul Bijadain RA adalah seorang sahabat yang nama aslinya Abdul Uzzah
al-Muzzanni. Orang tuanya dari kalangan bangsawan. Namun, mereka
wafat saat Dzul Bijadain masih kecil. Bijadain kemudian diasuh dan
dibesarkan pamannya yang kaya raya.
Pada
usia 16 tahun Dzul Bijadain masuk Islam, melalui sahabat-sahabat
Rasulullah yang berhijrah dari Makkah ke Madinah. Ia diajak ikut
serta ke Madinah untuk belajar Islam, tetapi ditolaknya. Penolakan
itu dilakukannya karena ia ingin sang paman masuk Islam.
Selama
tiga tahun berdakwah kepada pamannya, usahanya tak membuahkan hasil.
Maka, ia pun dengan terang-terangan menyatakan keislamannya di
hadapan pamannya dan mengajaknya ke Madinah. Sang paman mengancamnya,
tetapi ia tak khawatir. “Saya tak punya pilihan lain selain Allah
dan Rasul-Nya,” ujarnya.
Karena
itu, ia pun meninggalkan semua harta dan kekayaannya demi cintanya
kepada Allah dan Rasulullah. Ia berhijrah ke Madinah. Sesampainya di
Masjid Nabawi, Rasulullah bertanya, “Siapa Anda?” Ia menjawab,
“Saya Abdul Uzzah.”
Saya
dating kemari dengan meninggalkan semua yang aku miliki, kecuali
kedua pasang baju kasar (Bijadain) ini.” Rasul bertanya, “Apakah
Engkau benar melakukan semua itu?” Ia mengiyakan. “Mulai saat
ini, engkau bernama Abdullah Dzul Bijadain,” ujar Rasulullah.
Ia
kemudian tinggal di serambi masjid bersama Ahlus Shuffah selama empat
tahun. Pada usia yang ke-23, ia turut berperang dalam Perang Tabuk.
Namun, ia syahid dalam peristiwa itu akibat terserang demam keras
setelah akan pulang dari perang.
Proses
pemakamannya dilakukan Rasulullah SAW. Ibnu Mas’ud mengabarkan, “Di
malam buta yang dingin, aku mendengar orang menggali tanah. Aku
terbangun. Ternyata Abu Bakar dan Umar sedang memegang obor untuk
menerangi Rasulullah yang sedang menggali kubur untuk Dzul Bijadain.
Rasul enggan dibantu karena ia ingin menghormatinya.
Setelah
jenazah Dzul Bijadain sempurna dibaringkan di liang lahat, Nabi
bertakbir empat kali kemudian berdo’a, “Ya Allah, saya bersaksi
kepadamu, saya berada di malam ini ridha kepada Dzul Bijadain. Maka,
berkenanlah Engkau meridhainya. Ya Allah, aku bersaksi kepadamu, saya
berada di malam ini ridha kepada Dzul Bijadain. Maka, berkenanlah
Engkau meridhainya.” Ibnu Mas’ud berkata, “Demi Allah, saya
merindukan akulah yang dikuburkan, karena aku masuk Islam 15 tahun
lebih awal dari Dzul Bijadain.”
Empat
kesaksian yang diberikan Nabi kepada Dzul Bijadain; cinta Allah dan
Rasul-Nya, banyak bertaubat dan kembali kepada Allah, gemar membaca
Alquran, dan Rasulullah ridha kepadanya.
Dzul
Bijadain telah memperoleh kesuksesan, yaitu ridha Allah dan
Rasul-Nya, setelah berjuang merelakan harta dan jiwanya di jalan
Allah. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang ridha dan diridhai-Nya.” (QS [89]: 27-28).
Wallahu a’lam.
RSS Feed
Twitter
3:20 PM
Andrean Nurdiansyah

Posted in
Sukses butuh usaha keras intinya.:)
ReplyDelete